Rabu, 29 Desember 2010

Puisi-Puisi Wiji Thukul


Berikut sedikit puisi dari Wiji Thukul.., untuk mengenang yang terkenang.


-Peringatan-

jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa

kalau rakyat sembunyi dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar

bila rakyat tidak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam

apabila usul ditolak tanpa ditimbang suara
dibungkam kritik
dilarang tanpa alasandituduh subversif
dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!

Solo, 1986


-Sajak Suara-

sesungguhnya suara itu tak bisa diredam
mulut bisa dibungkam
namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang
dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku
suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
di sana bersemayam kemerdekaan
apabila engkau memaksa diamaku
siapkan untukmu: pemberontakan!

sesungguhnya suara itu bukan perampok
yang ingin merayah hartamu
ia ingin bicara
mengapa kau kokang senjata
dan gemetar ketika suara-suara itu
menuntut keadilan?
sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
ialah yang mengajari aku bertanya
dan pada akhirnya tidak bisa tidak
engkau harus menjawabnya
apabila engkau tetap bertahan
aku akan memburumu seperti kutukan


-(Tanpa Judul)-

kuterima kabar dari kampung
rumahku kalian geledah
buku-bukuku kalian jarah
tapi aku ucapkan banyak terima kasih
karena kalian telah memperkenalkan
sendiri pada anak-anakku
kalian telah mengajar anak-anakku
membentuk makna kata penindasan
sejak dini
ini tak diajarkan di sekolahan
tapi rezim sekarang ini memperkenalkan
kepada semua kita
setiap hari di mana-mana
sambil nenteng-nenteng senapan

kekejaman kalian
adalah bukti pelajaran
yang tidak pernah ditulisIndonesia,

11 agustus ‘96

-Bunga dan Tembok-

seumpama bunga
kami adalah bunga yang tak kaukehendaki tumbuh
engkau lebih suka membangun
rumah dan merampas tanah

seumpama bunga
kami adalah bunga yang tak kaukehendaki adanya
engkau lebih suka membangun
jalan raya dan pagar besi

seumpama bunga
kami adalah bunga yang dirontokkan di bumi kami sendiri

jika kami bunga
engkau adalah tembok
tapi di tubuh tembok itu telah kami sebar biji-biji
suatu saat kami akan tumbuh bersamad
engan keyakinan: engkau harus hancur!
dalam keyakinan kami
di mana pun – tirani harus tumbang!

Solo, ’87 - ‘88


-Seorang Buruh Masuk Toko-

masuk toko
yang pertama kurasa adalah cahaya
yang terang benderang
tak seperti jalan-jalan sempit
di kampungku yang gelap
sorot mata para penjaga
dan lampu-lampu yang mengitariku
seperti sengaja hendak menunjukkan
dari mana asalku
aku melihat kakiku - jari-jarinya bergerak
aku melihat sandal jepitku
aku menoleh ke kiri ke kanan - bau-bau harum
aku menatap betis-betis dan sepatu
bulu tubuhku berdiri merasakan desir
kipas angin
yang berputar-putar halus lembut
badanku makin mingkup
aku melihat barang-barang yang dipajang
aku menghitung-hitung
aku menghitung upahku
aku menghitung harga tenagaku
yang menggerakkan mesin-mesin di pabrik
aku melihat harga-harga kebutuhan
di etalase
aku melihat bayanganku
makin letih
dan terus diisap

10 september 1991


-Bukan Kata Baru-

ada kata baru kapitalis, baru? Ah tidak, tidak
sudah lama kita dihisap
bukan kata baru, bukan
kita dibayar murah
sudah lama, sudah lama
sudah lama kita saksikan
buruh mogok dia telpon kodim, pangdam
datang senjata sebataliyon
kita dibungkam
tapi tidak, tidak
dia belum hilang kapitalis
dia terus makan
tetes ya tetes tetes keringat kita
dia terus makan
sekarang rasakan kembali jantung
yang gelisah memukul-mukul marah
karena darah dan otak jalan
kapitalis
dia hidup
bahkan berhadap-hadapan
kau aku buruh mereka kapitalis
sama-sama hidup
bertarung
ya, bertarung
sama-sama?
tidak, tidak bisa
kita tidak bisa bersama-sama
sudah lama ya sejak mula
kau aku tahu
berapa harga lengan dan otot kau aku
kau tahu berapa upahmu
kau tahu
jika mesin-mesin berhenti
kau tahu berapa harga tenagamu
mogoklah
maka kau akan melihat
dunia mereka
jembatan ke dunia baru
dunia baru ya dunia baru.

tebet 9 April 1992


-Bukan Dimulut Politikus Bukan Di meja SPSI-

berlima dari solo berkeretaapi kelas ekonomi murah
tak dapat kursi melengkung tidur di kolong
pas tepat di kepala kami bokong-bong
kiri kanan telapak kaki tas sandal sepatu
tak apa di pertemuan ketemu lagi kawan
dari krawang-bandung-jakarta-jogya-tangerang
buruh pabrik plastik, tekstil, kertas dan macam-macam
datang dengan satu soal
dari jakarta pulang tengah malam dapat bis rongsok
pulang letih tak apa diri telah ditempa
sepanjang jalan hujan kami jongkok tempat duduk
nempel jendela
bocor
bocor
sepanjang jalan tangan terus mengelapi
agar pakeyan tak basah
dingin
dingin
tapi tak apa
diri telah ditempa
kepala dan dada masih penuh nyanyi panas
hari depan buruh di tangan kami sendiri
bukan di mulut politikus
bukan di meja spsi

Solo, 14 mei 1992


-E D A N-

sudah dengan cerita mursilah?
edan!
dia dituduh maling
karena mengumpulkan serpihan kain
dia sambung-sambung jadi mukena
untuk sembahyang
padahal mukena tak dibawa pulang
padahal mukena dia taroh
di tempat kerja
edan!
sudah diperas
dituduh maling pula
sudah dengan cerita santi?
edan!
karena istirahat gaji dipotong
edan!
karena main kartu
lima kawannya langsung dipecat majikan
padahal tak pakai wang
padahal pas waktu luang
edan!
kita mah bukan sekrup

Bandung 21 Mei 1992


-Leuwigajah-

Leuwigajah berputar
dari pagi sampai pagi
jalan-jalan gemetar
debu-debu membumbung
dari knalpot kendaraan pengangkut
mesin-mesin terus membangunkan
buruh-buruh tak berkamar-mandi
tidur jejer berjejer alas tikar
tanpa jendela tanpa cahaya matahari
lantai dinding dingin lembab pengap
lidah-lidah penghuni rumah kontrak
terus menyemburkan cerita buruk:
lembur paksa sampai pagi - upah rendah
jari jempol putus - kecelakaan-kecelakaan
kencing dilarang - sakit ongkos sendiri
mogok? pecat!
seperti nyabuti bulu ketiak
tubuh-tubuh muda
terus mengalir ke Leuwigajah
seperti buah-buah disedot vitaminnya
mesin-mesin terus menggilas
memerah tenaga murah
satu kali dua puluh empat jam
masuk - absen - tombol ditekan
dan truk-truk pengangkut produksi
meluncur terus ke pasar
Leuwigajah tak mau berhenti
dari pagi sampai pagi
cerobong asap terus mengotori langit
limbah mengental selokan berwarna
Leuwigajah terus minta darah tenaga muda
Leuwigajah makin panas
berputar dan terus menguras
tenaga-tenaga murah

Bandung - Solo 21 Mei - 16 Juni


-Leuwigajah Masih Haus-

leuwigajah tak mau berhenti
dari pagi sampai pagi
bis-bis-mobil pengangkut tenaga murah
bikin gemetar jalan-jalan
dan debu-debu tebal membumbung
mesin-mesin tak mau berhenti
membangunkan buruh tak berkamar-mandi
tanpa jendela tanpa cahaya matahari
jejer berjejer alas tikar
lantai dinding dingin lembab pengap
mulut lidah-lidah penghuni rumah kontrak
terus bercerita buruk
lembur paksa sampai pagi
tubuh mengelupas-jari jempol putus - upah rendah
mogok - pecat
seperti nyabuti bulu ketiak
tubuh-tubuh muda
terus mengalis ke leuwigajah
seperti buah-buah disedot vitaminnya
mesin-mesin terus menggilas
memerah tenaga murah
satu kali duapuluhempat jam
masuk - absen - tombol ditekan
dan truk-truk pengangkut produksi
meluncur terus ke pasar
leuwigajah tak mau berhenti
dari pagi sampai pagi
asap crobong terus kotor
selokan air limbah berwarna
mesin-mesin tak mau berhenti
terus minta darah tenaga muda
leuwigajah makin panas
berputar dan terus menguras

Bandung 21 mei 1992


-Makin Terang Bagi Kami-

tempat pertemuan kami sempit
bola lampu kecil cahaya sedikit
tapi makin terang bagi kami
tangerang - solo - jakarta kawan kami
kami satu : buruh
kami punya tenaga
tempat pertemuan kami sempit
di langit bintang kelap-kelip
tapi makin terang bagi kami
banyak pemogokan di sanasini
tempat pertemuan kami sempit
tapi pikiran ini makin luas
makin terang bagi kami
kegelapan disibak tukar-pikiran
kami satu : buruh
kami punya tenaga
tempat pertemuan kami sempit
tanpa buah cuma kacang dan air putih
tapi makin terang bagi kami
kesadaran kami tumbuh menyirami
kami satu : buruh
kami punya tenaga
jika kami satu hati
kami tahu mesin berhenti
sebab kami adalah nyawa
yang menggerakkannya

Bandung 21 mei 1992


-Satu Mimpi Satu Barisan-

di lembang ada kawan sofyan
jualan bakso kini karena dipecat perusahaan
karena mogok karena ingin perbaikan
karena upah ya karena upah
di ciroyom ada kawan sodiyah
si lakinya terbaring di amben kontrakan
buruh pabrik teh
terbaring pucet dihantam tipes
ya dihantam tipes
juga ada neni
kawan bariah
bekas buruh pabrik kaos kaki
kini jadi buruh di perusahaan lagi
dia dipecat ya dia dipecat
kesalahannya : karena menolak
diperlakukan sewenang-wenang
di cimahi ada kawan udin buruh sablon
kemarin kami datang dia bilang
umpama dironsen pasti nampak
isi dadaku ini pasti rusak
karena amoniak ya amoniak
di cigugur ada kawan siti
punya cerita harus lembur sampai pagi
pulang lunglai lemes ngantuk letih
membungkuk 24 jam
ya 24 jam
di majalaya ada kawan eman
buruh pabrik handuk dulu
kini luntang-lantung cari kerjaan
bini hamin tiga bulan
kesalahan : karena tak sudi
terus diperah seperti sapi
di mana-mana ada sofyan ada sodiyah ada bariyah
tak bisa dibungkam kodim
tak bisa dibungkam popor senapan
di mana-mana ada neni ada udin ada siti
di mana-mana ada eman
di bandung - solo - jakarta - tangerang
tak bisa dibungkam kodim
tak bisa dibungkam popor senapan
satu mimpi
satu barisan

Bandung 21 mei 1992


-P E N Y A I R-

jika tak ada mesin ketik
aku akan menulis dengan tangan
jika tak ada tinta hitam
aku akan menulis dengan arang
jika tak ada kertas
aku akan menulis pada dinding
jika aku menulis dilarang
aku akan menulis dengan
tetes darah!
sarang jagat teater

19 januari 1988


-Tujuan Kita Satu Ibu-

Kutundukkan kepalaku,
bersama rakyatmu yang berkabung
bagimu yang bertahan di hutan
dan terbunuh di gunung
di timur sana

Di hati rakyatmu,
tersebut namamu selalu
di hatiku
aku penyair mendirikan tugu
meneruskan pekik salammu
“a luta continua.”

kita tidak sendirian
kita satu jalan
tujuan kita satu ibuembebasan!

Kutundukkan kepalaku
kepada semua kalian para korban
sebab hanya kepadamu kepalaku tunduk
kepada penindas
tak pernah aku membungkuk
aku selalu tegak

- 4 Juli 1997


-Nyanyian Akar Rumput-

jalan raya dilebarkan
kami terusir
mendirikan kampung
digusur
kami pindah-pindah
menempel di tembok-tembok
dicabut
terbuang

kami rumput
butuh tanah
dengar!
Ayo gabung ke kami
Biar jadi mimpi buruk presiden!


-Sajak Ibu-

ibu pernah mengusirku minggat dari rumah
tetapi menangis ketika aku susah
ibu tak bisa memejamkan mata
bila adikku tak bisa tidur karena lapar
ibu akan marah besar
bila kami merebut jatah makan
yang bukan hak kami
ibuku memberi pelajaran keadilan
dengan kasih sayang
ketabahan ibuku
mengubah sayur murah
jadi sedap


dengan kebajikan
ibu mengenalkanku kepada tuhan


-Derita Sudah Naik Seleher-

kaulempar aku dalam gelap
hingga hidupku manjadi gelap

kausiksa aku sangat keras
hingga aku makin mengeras

kaupaksa aku terus menunduk
tapi keputusan tambah tegak

darah sudah kauteteskan
dari bibirku
luka sudah kaubilurkan
ke sekujur tubuhku
cahaya sudah kaurampas
dari biji mataku

derita sudah naik seleher
kau
menindas
sampai
di luar batas



-Kucing, Ikan Asin Dan Aku-

Seekor kucing kurus
menggondol ikan asin
laukku untuk siang ini
aku meloncat
kuraih
pisau
biar
kubacok ia
biar
mampus

ia tak lari
tapi mendongak
menatapku
tajam

mendadak
lunglai
tanganku
-aku melihat diriku sendiri!

lalu kami berbagi
kuberi ia kepalanya
(batal nyawa melayang)
aku hidup
ia hidup
kami sama-sama makan


-Tirani Harus Tumbang-

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau hendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendakiadanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besi

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri

Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!

Dalam keyakinan kami
Di manapun – tirani harus tumbang!

1987

-Buron-

baju lain
celana lain
potongan rambut lain
buku yang dibaca lain
bahan percakapan lain
nama lain
identitas lain
ekspresi lain
menjadi
diri
sendiri
adalah tindakan
subversi
di negeri ini
maka
selalu siaga
polisi
tentara
hukum dan penjara
bagi siapa saja
yang menolak
menjadi orang lain

20 September 1996

-Ayolah Warsini-

Warsini !Warsini !
Apa kamu sudah pulang kerja Warsini
Apa kamu tak letih seharian berdiri di pabrik
Ini sudah malam Warsini
Apa celana dan kutangmu digeledah lagi
Karena majikanmu curiga kamu membawa bungkusan moto

Atau apakah kamu mampir di salon lagi
Berapa utangmu minggu ini
Apa kamu bingung hendak membagi gaji

Ayolah warsini
Kawan-kawan sudah datang
Kita sudah berkumpul lagi disini
Kita akan latihan drama lagi
Ayolah Warsini

Kamu nanti biar jadi mbok bodong
Si Joko biar menjadi rentenirnya
Jangan malu warsini
Jangan takut dikatakan kemayu
Kamu tak perlu minder dengan pekerjaanmu
Biar kamu Cuma buruh
Dan sd saja tak tamat

Ayolah Warsini
Mas Yanto juga tak sekolah Warsini
Iiapun Cuma tukan plintur
Mami juga tak sekolah
Kerjanya mbordir sapu tangan di rumah
Wahyuni juga tidak sekolah
Bapaknya tak kuat bayar uang pangkal sma
Partini penjahit pakaian jadi
Di perusahaan milik tante Lili
Kita sama sama tak sekolah Warsini

Ayolah warsini
Ini sudah malam Warsini
Ini malam minggu warsini
Kami sudah menunggu di sini

Surakarta, November 1986

- . . .-
apa guna punya ilmu tinggi
kalau hanya untuk mengibuli
apa guna banyak baca buku
kalau mulut kau bungkam melulu
di mana-mana moncong senjata
berdiri gagah kongkalikong
dengan kaum cukong . . .

. . . sajakku
adalah kebisuan
yang sudah kuhancurkan
sehingga aku bisa mengucapkan
dan engkau mendengarkan

sajakku melawan kebisuan

Sabtu, 04 Desember 2010

Aku Hanya Anak Kampung



Oleh Rika Rahmawati

Aku tahu setiap hari putih menjadi hitam, kata-kata adalah angka, kebohongan menjadi lebih berguna dibandingkan dengan kejujuran. Aku seringkali berbicara pada jalan yang tenggelam kebanjiran tentang siapa yang terhormat, yang bermartabat. Lalu aku sangsikan segala nyata pada keabstrakan di atas lembar-lembar sejarah yang tidak pernah berubah.

Aku perhatikan sosok-sosok yang selalu melintas dihadapku dengan aroma badan semerbak kesombongan, duduk disampingku lalu berbicara ‘ini’ dan ‘itu’, berkata dengan isi suara halus menjerumus, yang sebenaranya ada sebagian pembicaraan tidak aku mengerti karena aku sebuah raga dari ketidakmengertian, ketidaktahuan; sampan yang kebingungan di permukaan lautan, menerjang terjangan ombak di atas karang. Lalu mereka mengajak untuk berbagai hal, maka wajahku berbicara: “aku katakana padamu yang telah mati digerogoti ulat, sebentar lagi kau membusuk dan dikerumuni lalat.” Kemudian mereka memalingkan muka dan menjawab dengan punggung mereka: “berbahagialah dengan diammu!” maka senyumku bergumam: “diam ini kesadaran otak ketika melihat tikus yang siap dikuburkan.”

Pada saat air hujan bergerombol menyerbu tanah, aku rasakan ancaman sedikitnya mengalir di kening. Dan hening. Beku merasuk. Nyala lampu menusuk. Ternyata mentari sementara mati dan kembali entah pada pagi atau selamanya terkubur oleh kemalasan membuka mata.

Raga melayang di atas jembatan masih di bawah langit. Pandangku beragam: air yang hitam, udara yang sesak, tak ada tanah, semua adalah beton berlapis semen abu tanpa hijau yang saling bergelantung menari. Kemudian aku katakan pada gedung-gedung tinggi yang menjadi belantara: “aku hanya anak kampung yang bertarung dengan menghirup udara liar sehingga paru-paru ini siap sesak oleh gas-gas beracun pestisida, sulfur dioksida, cadmium, hidrokarbon, nitrogen, dan karbon dioksida.” Petugas kebersihan kota menyapu sampah di depan istana, kemewahan melintas dan mencipratkan air hujan bercampur ketidakpedulian di wajah mereka.

Adakah kita berada pada tempat yang sama [?]
Adakah air yang kita minum sama rasa [?]
Adakah tanah yang kita pijak berbeda warna [?]
Dan Tuhan yang ciptakan segala
Sementara detik ada pada bumi kuasa

Selayaknya mencabut nyawa, menahan jiwa dalam bahaya. Menghampiri anjing yang berjaga di depan neraka karena hidup bukan hanya sekedar nuansa kata-kata indah yang turun dari syurga.

Jangan nyanyikan lagu sendu yang selalu berdawai di padang hijau. Jangan lantunkan merdu suara yang selalu bersandar pada keheningan. Berikan aku nyanyian yang membakar bulan; menghantam denyut nadi sehingga membuncah jiwa bernada hantaman di pelupuk mata. Aku tidak akan tersenyum pada kalian dengan darah yang kering; dan daging-daging membusuk atas prahara yang dijadi-jadikan, diada-adakan.

Di dalam bis kota ini aku merindu ayah dan ibuku; kampong halamanku jauh di balik nuansa keadilan hidup yang sempurna; dan sementara kawanku adalah keperihan antara gemerincik air yang menimpa tanah pengap tertimbun beton dan aspal.

Pada malam
Pada angin
Pada lampu
Pada jalan
Pada jembatan
Pada batas kota
Pada polusi
Pada bising suara
Sampaikan sepucuk rindu dari bibir kering teruntuk Tuhan di ujung nalar.
Dan bila sejenak kabarku tenggelam, ampun aku dan lupakan adaku.
Kesunyian adalah rumahku.

Gelagat Hari

Oleh Rika Rahmawati

Segala gelagat hari mulai terlihat di renung mentari
Cahaya tersimpan antara sampah dan busuk di ranah bernanah
Kebobrokan tak terkubur dalam
Petinggi hendak gagal sembunyikan wajah negeri;
kepolosan yang mudah dipengaruhi
sungguh mudah dijejali halhal berupa keuntungan materi sementara mimpi anakanak tergerus tank baja dan kepulan asap dari cerobong besi
Lalu segala gelagat siang ikut terbenam bersama petang
dan kalian masih saja menghitung keuntungan dari keringat yang tidak dibayar
Para buruh harus berpikir seribu kali untuk membeli makan
Para istri mengajak bertengkar
memikirkan biaya hidup dan anak yang disekolahkan
Segalanya digadaikan
termasuk masa depan dijadikan jaminan utang

Rabu, 07 Juli 2010

Cawan Peci Haji

Oleh Rika Rahmawati

Aku tidak pernah menjawab ataupun balik bertanya
Karena setiap hari pula matahari melepas beribu anak panah ke dada bumi
"aku hanya ingin tunjukan sesuatu kepadamu yang lebih dari sekedar kata-kata
dan inilah kenyataannya [??]"
Maling teriak maling
Teroris yang meneriaki teroris
Di mana 'kyai dan ulama' banyak sudah terbeli
Berceramah di antara kaum serakah
Mengatasnamakan agama dengan dalil-dalil dusta
Saling bercakap dalam ruang sidang seperti Micky Mouse di dunia fantasy
Berkhutbah mengudara bagai radio dan televisi 14 inchi
yang tayang 24 jam
dan yang selalu mengulang petuah-petuah kebohongan
Hingga perut kembung-mual
Hingga merah telinga bengkak karena berbagai dakwah soal akhirat dan moral
Lalu ingin ku tutup mata dengan kain kafan dari mereka yang telah diisi dengan huruf-huruf kafital

Bedebah!!
Apa aku harus mengaku kalah sementara iring-iringan hitam gagak melintas di angkasa seakan menambah duka yang telah menganga [?]
Dan busuk mulai terpatri di pijakan tangga hari
Kata-kata syurga segera mati
Terlabeli di cawan peci haji
Kemudian perlahan neraka membuka jendela
Sebarkan rayap-rayap iblis ke penjuru dunia
Mendedikasikan diri sebagai Nabi
Wahyu-wahyu baru didapati dari sebuah mimpi
yang tak dimengerti karena detik ini semua menatap langit berharap angannya akan terjadi

Kejujuran hanya ada kala kebohongan bukanlah pilihan
Untuk kepentingan eksistensi dan peranan
Sekarang malam telanjang bulan
Sekarang pagi menyepi mentari
Sekarang bintang sebatas bercak hunusan kelam
Kehidupan tidak menyenangkan kala Tuhan adalah alat menyerang

Rabu, 09 Juni 2010

Suara Pagi

Oleh Rika Rahmawati

Pagi selalu aku awali dengan berdiri di balik jendela kamar untuk ku nikmati kebusukkan mentari pagi menembus pori
Mengingat Tuhan yang kemarin habis ditelan
dan hari ini manusia bertebaran kembali untuk mencari di balik pintu gerbang korporasi
yang mulai tak berarti karena terlalu didesaki tragedi;
dan juga para petani pagi yang mulai lupa menebarkan pupuk karena bentuk modernisasi dan lahan yang bertransformasi menjadi betonbeton tinggi.
Namun dari hari ini kepalan ku dan kami mulai meninggi
Hingga balita bisa kembali kenali fajar dipojokkan hari
Hingga secercah harap bukan hanya sekedar kudapan di meja makan para tirani
Hingga akhirnya kami akan terus bersuara sambil berseri
sekalipun harus mati dan mengasap selayaknya Munir dan Widji Tukul
Tat kala suara dan kata dibungkam rentetan tembakkan senjata
yang menjadikan perang dianggap biasa dimata penguasa.
"PERANG TIDAK PERNAH MENENTUKAN SIAPA YANG BENAR
MELAINKAN MENENTUKAN SIAPA YANG TERSISA."

Senin, 07 Juni 2010

Tak Kenali Matahari

Oleh Rika Rahmawati

"pagi siang sore malam"
Empat sapa menyatu dalam 1 detik yang terbuang
Pesan dari seorang kawan di bawah awan yang tak siap terang
Dan aku mulai kerutkan dahi
Karena memang iya!
Dan iya!
Aku sudah tak kenali matahari
tak kenali cahayanya;
tak kenali hangatnya yang hilang hingga dinginkan jemari kaki;
Sekalipun kadang silaunya bocorkan pori
Pagi-Petang
Siang-Malam
Hanya serupa putar pergantian

Aku Ingin Menjadi Kutukan

Oleh Rika Rahmawati

Aku sangkakan mimpi ditepian
Karena waktu pelaku ujung karangan
Aku sangkakan
Esok hari di karangan pita hitam
Kala mentari terlalu cepat mengkhianati
Kala bulan terlalu petang merangrang dikepulan asap angan
yang bayang

Jiwa ini kutukan
Pemburu nyawa
Pembangkit tanpa jingjit di dermaga surau parau

Jiwa ini kutukan
Tanpa terlentang telanjang antara dayung dan sampan
Bersama angka
Bersama kata
yang belum binasa di singgasan

Garis

Oleh Rika Rahmawati

Aku sama hidup
Di hitam dan putih
di terang dan gelap
di cerah dan pucat:
di seluruh sifat bumi

Aku sama hidup
Rasakan panas dan dingin
rasakan air dan kering
rasakan tanah dan angin:
rasakan seluruh elemen hari berdikari

Belajar campakan angan
Ingat merah-biru setelah berlalu
Damba kebebasan
Tuhan masih di beranda rumah tak kenal minggu

Aku sama hidup
Berjibaku dengan kata
Cari arti dari sebuah makna
dan juga "Tidak Ada"
Kekosongan yang desaki ruang isi
"apa guna hari ini jika hanya dibius tragedi [?]"

Binasa Dosa

Oleh Rika Rahmawati

Aku adalah binasa dosa
Merangrang garang keras tak punya rasa
Kabari 'ku esok dengan tanya baru;
teka-teki tak hakiki yang buat gila-lagi

Binasa dosa adalah aku
Angkasa selimut mulut
Sebab cemas makin panas
"sudahlah!" ucap cemas-resah
Khawatir tersisir kafir
"sudahlah!" ucap cemas-resah
Arsir petir di pikir

Ini Februari

Oleh Rika Rahmawati

Ini februari tak mau berhenti
Percik tak berhati sambar hari.
Kenang yang hilang.
Tata kodrat kuyup gelegar.

Hari ini aku sepadan
Meniti takut daun memanggut
Juga alir selok kotoran dan kuman: sama kebasahan
sama-sama kedinginan
sama-sama hentikan jalan di pertigaan

Tapi ini februari tak mau berh

Salam Segala Salam


Oleh Rika Rahmawati

Aku hanya ingin bicara tentang harapku pada bumi di esok hari
Ingin cerah tapi tanpa mentari bergairah
Bolehlah mendung asal daun daun tak berkabung

Salam segala salam dari fajar kepada awan
Sampaikan pada negara dengan teriak ibu di kolong jembatan yang menggendong buah hati tanpa harap dan mimpi karena dirampas para tirani

Salam segala salam dari fajar kepada awan
Sampaikan pada negara dengan penghuni trotoar yang sudah bagai koral di sebuah altar tempat para khalifah menengadah merahrah

Salam segala salam dari fajar kepada awan
Sampaikan pada negara dengan mimbar bantaran sungai tempat para imam hendak berenang kala turun hujam

Aku hanya ingin bicara tentang harapku pada bumi di malam nanti
Ingin terang tapi tanpa lampu dan bulan
Bolehlah berbintang asal langit tetap bertelanjang

Salam segala salam dari angin kepada dingin
Sampaikan pada dunia dengan perang yang sudah diangagap biasa. Dipersenjatai soda soda cocacola.

Salam segala salam dari angin kepada dingin
Sampaikan pada dunia dengan pemuda yang sudah harus membidik kepala sesama manusia seperti pada macan pemangsa

Salam segala salam dari angin kepada dingin
Sampaikan pada dunia dengan pendeta yang hendak berkelililng untuk beribadah harus dikawal oleh 4 tentara

Salam segala salam..
Salam segala salam..

Aku hanya sedikit bicara dengan pena yang tak siap di isi tinta

Atas nama kibaran bendera di tengah ladang para jalang
Bahwa hirarki bumi tidak lebih dari opsi investasi

Atas nama kibaran bendera di tengah ladang petani petang
Bahwa hiraiki bumi tidak lebih dari opsi eksploitasi

Dan darah proletariat adalah luapan profit yang mereka kais, mereka hisap, meraka keruk
bagai dengan tebasan celurit banditbandit

Langit terlalu jauh merakit
Oh..,
sungguh..
Langit terlalu jauh merakit

Dasar bait bait yang aku pulung dan aku sair dari parit

Salam segala salam..
Salam segala salam..

-A-B-C-D-

Oleh Rika Rahmawati

-A-
Aku sedang ingin berpedang
Menebas segala bentuk penindasan;
memenggal segala pendukung keterasingan.

Di mana sejarah tertuang?
Di buku pelajaran sekolah?
Di buku cerita dengan 1001 kisah?
Apa yang dijelaskan tentang arti dari perjuangan, perang, pemberontakan permintaan hak jika ternyata berakhir di tangan para khalifah berwajah lintah?

Aku muak!
Geram!
Aku sedang ingin berpedang
Menebas segala bentuk penindasan;
memenggal segala pendukung keterasingan.

-B-
Benteng berdiri di perbatasan
Antara penuntut hak dan para Tiran
Pukulan rotan serta bidikan senapan iringi teriak mohon kesejahteraan

semua ditelantarkan!

Sementara iblis bertuhan keris berpidato.., amboi..., sungguh manis

-C-
Cetak lebih banyak tuhan kertas dan tuhan logam
Bukan untuk kami,
melainkan untuk kalian tikus tikus yang bertengger di meja tahta kekuasaan
Keruk saja!
Keruk! Sampai bagian tersusruk!

Tapi ingat saja: aku mulai garang!

Aku sedang ingin berpedang
Menebas segala bentuk penindasan;
memenggal segala pendukung keterasingan.

-D-
Dari atas hingga bawah
Dari kiri hingga kanan
berjejer deretan huruf, huruf yang membentuk kata, kata yang membentuk kalimat, kalimat yang membentuk paragraf.
Angka dan pasal pasal

Konstitusi untuk dipatuhi
Konstitusi untuk ditaati
Namun tidak bagi para petinggi,
'jahatku tersembunyi' katanya. Dan aku benci!!

..... ..... ..... ..... .....
..... ..... ..... ..... .....
..... ..... ..... ..... .....

Peralihan

Oleh Rika Rahmawati

Sekarang beralih
Dari hidup menjadi setengah mati;
setengah tak berhati.

Dulu bukan bersama ari ari
Dari peti aji aji

Biar besok
dengan ketibatiba sosok
Meski jauh pelosok
Merogok
Meski bagai rongsok

Yang Ada Sebelum Namanya

Oleh Rika Rahmawati - Toge

Jika esok kita masih bisa berkata
Berkatalah hingga kisah-kisang yang dikubur ditelanjang
Jika esok kita masih bisa berkata
Berkatalah hingga cerita-cerita yang ditimbun dijajar
Jika esok kita masih bisa berkata
Berkatalah hingga sejuta peristiwa yang mengalir di arus berita benar-benar dicungkil diampar

Satu tanah satu ibu
Tapi tidak berarti satu perintah satu kebebasan dijarah
Satu tanah satu ibu
Tapi tidak berarti satu aturan satu harap dijagal dan melayang hilang

Karena setiap jemari bebas berimprovisasi tari
Dan karena setiap suara bebas melantun nyanyi
Dan karena pula hidup bukan sebatas layar 21 inchi
dengan kesamaan persepsi yang hanya barisan fiksi.
Yang ironi.
Diantara kemarin, esok, dan hari ini.

Hujan pun tidak menuntut basah
Pada kemarau yang mengering
Parpol-parpol yang mengurus 'entah'
Berebut kursi saling menggunjing

Aku menyerah dalam keadaan pasrah
Di mana yang ada sebelum namanya
Aku menyerah dalam keadaan pasrah
Di mana derita dalam duka tertimbun menjadi satu dalam tumpukan sejarah
Aku menyerah dalam keadaan pasrah
Di mana keadilan harus tegak berdiri di alam semesta, menerangi penjuru langit dan bumi
Hingga tak ada kata:
"kosong bertemu kosong
menjadi senyap dalam gelap
lalu sunyi dan mati"

Maka, nikmat apakah yang masih dapat kudustakan?

Bawah Garis

Oleh Rika Rahmawati

Jalan,
aku.
Samar nyawa tinggal usia.
Disambung suara rhyma
tanpa
merdu irama.
Bersama tiga lampu. Serta.
Bukan tiang bendera melainkan
rambu-rambu.

Bawah terik,
aku.
Deru lagu.
Nyanyian untuk para tuan.
Deru lagu pinta recehan
dari para tuan kerah putih. Berdasi.
Hasil tahta dan korupsi. Yang.
Membunuh tanpa bercak darah.
Tumpukan koran catatan sejarah.

Kumal,
aku.
Ajak para tuan hendak singgah ke rumah.
Lantai, dinding, langit-langit:
kumpulan sampah.
Bila 'tak sudi: pergi!!
Para tuan tidak berarti.
Para tuan hanya menginjak.
Jalan, bawah terik, kumal:
masih bisa berjalan tanpa tapak.

Mata Angin


Oleh RikaRahmawati

Kita telah terdampar di suatu tempat yang aku panggil 'entah'
Kehidupan kota terkadang
lebih berharga dari pada belantara rimba
Kau membuka bajumu
akan mengeringkan keringat yang semenjak tadi pagi
kau kucurkan hingga petang ini.
Tulang-tulangmu menonjol
dan menggambarkan energimu telah habis sama dengan energiku,
kedinamisanmu sama terkikisnya dengan kedinamisanku.
Aku terduduk di semak belukar
memandang beberapa kawan yang sama lelahnya
mengucurkan keringat keputusasaa;
mengharapkan keajaiban yang tak mungkin datang
karena sebelumnya kita tak mengenal Tuhan.

Pikirku,
kapan terjadi awal?
Mungkin dulu ketika kalian belum mengenalku.
Dan,
kapan terjadi akhir?
Mungkin nanti tat kala kalian telah melupakanku.

Kuharap akhir kita tidak terjadi sekarang:
di saat ketakutan mendampingi perjalanan;
ketika ajal seakan di depan;
ketika kita tertekan memikirkan jalan pulang.

Ku dengar harmoni
dari seorang kawan yang sedang mencoba tenang.
Bagiku terlalu keparat jika harus sekarang , itu bagai
senyum pejabat
di atas derita rakyat melarat.

Kayu telah menjadi arang.
Tenda terang karena suara tangis gadis meringis.
Dia ingin pulang, sesekali melirik phonecell-nya
namun percuma
dan ia berteriak histeris.

Kita telah terdampar di suatu tempat yang aku panggil 'entah'
Gedung tua dengan lumut hijau di dinding,
ataupun rumah kumuh dengan lubang di kayu
lebih berharga dibanding dengan ini.
Beralaskan tanah;
berselimtu langit gelap, dengan
mimpi taburan bintang serta lampu bulan temaram.

Air hujan langsung mengenai ubun-ubun
tanpa genteng menjadi benteng.
Beberapa titik hujan jatuh di buku catatan kecilku
merah!!!
Kupandang arah atas
bintang sedang dibantai syaitan malam dan
tewas mengenaskan!!

Aku terpejam dengan titik-titik hujan darah.

Kita telah terdampar di suatu tempat yang aku panggil 'entah'
Kokokan ayam jantan
terlalu langka untuk didengarka.
Pagiku dibangunkan oleh gigitan serangga,
ufuk timur tak kulihat dari jendela
melainkan dari celah rambatan akar-akar benalu.

Kumelihatmu duduk di atas batu
dan 2 rakaat kewajiban telah tertinggalkan
aku benar-benar tidak mengenal Tuhan.

Si pelantun harmoni merenggut tanganku,
menariku menuju arahmu.
Kau suguhkan sarapan ; sarang lebah selai madu
dengan setitik embun untuk minum.
Gadis itu masih menangis, melirik phonecell namun
sutah tidak berteriak histeris
suaranya habis
setelah ketajaman malam menebas pita suaranya.

Tenang,
kau tetap tenang walau kami menderita
ataupun akan bagaiman pula.
Tak jauh beda dengan si pelantun harmoni:
tidak tau mati; tetap tersenyum
menghisap sebatang nikotin yang kau bawa jauh-jauh hari.

Aku berkabung,
awan jingga menjadi mendung.
Kepalaku menengadah, namun sang awan berkata,
"kau tak pantas menatapku, tak dapat kutunjukan
arah bagimu maupun kawananmu!
Tak kuhindari dahi mengkerut
seraya menunduk. Kusingkirkan dedaunan serta ranting di atas tanah
"jangan kau tanya, aku tak tahu apa-apa!
silakan saja tanya api dihadapanmu."
tukas tanah basah.

Api begitu merah
membara!!!
Tak kuasa aku bertanya seakan melihat singa.
Raungannya menutup mulutku, bahkan
menghentikan denyut nadi
dan harpanku terbang jauh terbawa angin.
Kita benar-benar
telah terdampar di suatu tempat yang aku panggil 'entah'.