Oleh Rika Rahmawati
Pagi selalu aku awali dengan berdiri di balik jendela kamar untuk ku nikmati kebusukkan mentari pagi menembus pori
Mengingat Tuhan yang kemarin habis ditelan
dan hari ini manusia bertebaran kembali untuk mencari di balik pintu gerbang korporasi
yang mulai tak berarti karena terlalu didesaki tragedi;
dan juga para petani pagi yang mulai lupa menebarkan pupuk karena bentuk modernisasi dan lahan yang bertransformasi menjadi betonbeton tinggi.
Namun dari hari ini kepalan ku dan kami mulai meninggi
Hingga balita bisa kembali kenali fajar dipojokkan hari
Hingga secercah harap bukan hanya sekedar kudapan di meja makan para tirani
Hingga akhirnya kami akan terus bersuara sambil berseri
sekalipun harus mati dan mengasap selayaknya Munir dan Widji Tukul
Tat kala suara dan kata dibungkam rentetan tembakkan senjata
yang menjadikan perang dianggap biasa dimata penguasa.
"PERANG TIDAK PERNAH MENENTUKAN SIAPA YANG BENAR
MELAINKAN MENENTUKAN SIAPA YANG TERSISA."
Rabu, 09 Juni 2010
Senin, 07 Juni 2010
Tak Kenali Matahari
Oleh Rika Rahmawati
"pagi siang sore malam"
Empat sapa menyatu dalam 1 detik yang terbuang
Pesan dari seorang kawan di bawah awan yang tak siap terang
Dan aku mulai kerutkan dahi
Karena memang iya!
Dan iya!
Aku sudah tak kenali matahari
tak kenali cahayanya;
tak kenali hangatnya yang hilang hingga dinginkan jemari kaki;
Sekalipun kadang silaunya bocorkan pori
Pagi-Petang
Siang-Malam
Hanya serupa putar pergantian
"pagi siang sore malam"
Empat sapa menyatu dalam 1 detik yang terbuang
Pesan dari seorang kawan di bawah awan yang tak siap terang
Dan aku mulai kerutkan dahi
Karena memang iya!
Dan iya!
Aku sudah tak kenali matahari
tak kenali cahayanya;
tak kenali hangatnya yang hilang hingga dinginkan jemari kaki;
Sekalipun kadang silaunya bocorkan pori
Pagi-Petang
Siang-Malam
Hanya serupa putar pergantian
Aku Ingin Menjadi Kutukan
Oleh Rika Rahmawati
Aku sangkakan mimpi ditepian
Karena waktu pelaku ujung karangan
Aku sangkakan
Esok hari di karangan pita hitam
Kala mentari terlalu cepat mengkhianati
Kala bulan terlalu petang merangrang dikepulan asap angan
yang bayang
Jiwa ini kutukan
Pemburu nyawa
Pembangkit tanpa jingjit di dermaga surau parau
Jiwa ini kutukan
Tanpa terlentang telanjang antara dayung dan sampan
Bersama angka
Bersama kata
yang belum binasa di singgasan
Aku sangkakan mimpi ditepian
Karena waktu pelaku ujung karangan
Aku sangkakan
Esok hari di karangan pita hitam
Kala mentari terlalu cepat mengkhianati
Kala bulan terlalu petang merangrang dikepulan asap angan
yang bayang
Jiwa ini kutukan
Pemburu nyawa
Pembangkit tanpa jingjit di dermaga surau parau
Jiwa ini kutukan
Tanpa terlentang telanjang antara dayung dan sampan
Bersama angka
Bersama kata
yang belum binasa di singgasan
Garis
Oleh Rika Rahmawati
Aku sama hidup
Di hitam dan putih
di terang dan gelap
di cerah dan pucat:
di seluruh sifat bumi
Aku sama hidup
Rasakan panas dan dingin
rasakan air dan kering
rasakan tanah dan angin:
rasakan seluruh elemen hari berdikari
Belajar campakan angan
Ingat merah-biru setelah berlalu
Damba kebebasan
Tuhan masih di beranda rumah tak kenal minggu
Aku sama hidup
Berjibaku dengan kata
Cari arti dari sebuah makna
dan juga "Tidak Ada"
Kekosongan yang desaki ruang isi
"apa guna hari ini jika hanya dibius tragedi [?]"
Aku sama hidup
Di hitam dan putih
di terang dan gelap
di cerah dan pucat:
di seluruh sifat bumi
Aku sama hidup
Rasakan panas dan dingin
rasakan air dan kering
rasakan tanah dan angin:
rasakan seluruh elemen hari berdikari
Belajar campakan angan
Ingat merah-biru setelah berlalu
Damba kebebasan
Tuhan masih di beranda rumah tak kenal minggu
Aku sama hidup
Berjibaku dengan kata
Cari arti dari sebuah makna
dan juga "Tidak Ada"
Kekosongan yang desaki ruang isi
"apa guna hari ini jika hanya dibius tragedi [?]"
Binasa Dosa
Oleh Rika Rahmawati
Aku adalah binasa dosa
Merangrang garang keras tak punya rasa
Kabari 'ku esok dengan tanya baru;
teka-teki tak hakiki yang buat gila-lagi
Binasa dosa adalah aku
Angkasa selimut mulut
Sebab cemas makin panas
"sudahlah!" ucap cemas-resah
Khawatir tersisir kafir
"sudahlah!" ucap cemas-resah
Arsir petir di pikir
Aku adalah binasa dosa
Merangrang garang keras tak punya rasa
Kabari 'ku esok dengan tanya baru;
teka-teki tak hakiki yang buat gila-lagi
Binasa dosa adalah aku
Angkasa selimut mulut
Sebab cemas makin panas
"sudahlah!" ucap cemas-resah
Khawatir tersisir kafir
"sudahlah!" ucap cemas-resah
Arsir petir di pikir
Ini Februari
Oleh Rika Rahmawati
Ini februari tak mau berhenti
Percik tak berhati sambar hari.
Kenang yang hilang.
Tata kodrat kuyup gelegar.
Hari ini aku sepadan
Meniti takut daun memanggut
Juga alir selok kotoran dan kuman: sama kebasahan
sama-sama kedinginan
sama-sama hentikan jalan di pertigaan
Tapi ini februari tak mau berh
Ini februari tak mau berhenti
Percik tak berhati sambar hari.
Kenang yang hilang.
Tata kodrat kuyup gelegar.
Hari ini aku sepadan
Meniti takut daun memanggut
Juga alir selok kotoran dan kuman: sama kebasahan
sama-sama kedinginan
sama-sama hentikan jalan di pertigaan
Tapi ini februari tak mau berh
Salam Segala Salam
.jpg)
Oleh Rika Rahmawati
Aku hanya ingin bicara tentang harapku pada bumi di esok hari
Ingin cerah tapi tanpa mentari bergairah
Bolehlah mendung asal daun daun tak berkabung
Salam segala salam dari fajar kepada awan
Sampaikan pada negara dengan teriak ibu di kolong jembatan yang menggendong buah hati tanpa harap dan mimpi karena dirampas para tirani
Salam segala salam dari fajar kepada awan
Sampaikan pada negara dengan penghuni trotoar yang sudah bagai koral di sebuah altar tempat para khalifah menengadah merahrah
Salam segala salam dari fajar kepada awan
Sampaikan pada negara dengan mimbar bantaran sungai tempat para imam hendak berenang kala turun hujam
Aku hanya ingin bicara tentang harapku pada bumi di malam nanti
Ingin terang tapi tanpa lampu dan bulan
Bolehlah berbintang asal langit tetap bertelanjang
Salam segala salam dari angin kepada dingin
Sampaikan pada dunia dengan perang yang sudah diangagap biasa. Dipersenjatai soda soda cocacola.
Salam segala salam dari angin kepada dingin
Sampaikan pada dunia dengan pemuda yang sudah harus membidik kepala sesama manusia seperti pada macan pemangsa
Salam segala salam dari angin kepada dingin
Sampaikan pada dunia dengan pendeta yang hendak berkelililng untuk beribadah harus dikawal oleh 4 tentara
Salam segala salam..
Salam segala salam..
Aku hanya sedikit bicara dengan pena yang tak siap di isi tinta
Atas nama kibaran bendera di tengah ladang para jalang
Bahwa hirarki bumi tidak lebih dari opsi investasi
Atas nama kibaran bendera di tengah ladang petani petang
Bahwa hiraiki bumi tidak lebih dari opsi eksploitasi
Dan darah proletariat adalah luapan profit yang mereka kais, mereka hisap, meraka keruk
bagai dengan tebasan celurit banditbandit
Langit terlalu jauh merakit
Oh..,
sungguh..
Langit terlalu jauh merakit
Dasar bait bait yang aku pulung dan aku sair dari parit
Salam segala salam..
Salam segala salam..
-A-B-C-D-
Oleh Rika Rahmawati
-A-
Aku sedang ingin berpedang
Menebas segala bentuk penindasan;
memenggal segala pendukung keterasingan.
Di mana sejarah tertuang?
Di buku pelajaran sekolah?
Di buku cerita dengan 1001 kisah?
Apa yang dijelaskan tentang arti dari perjuangan, perang, pemberontakan permintaan hak jika ternyata berakhir di tangan para khalifah berwajah lintah?
Aku muak!
Geram!
Aku sedang ingin berpedang
Menebas segala bentuk penindasan;
memenggal segala pendukung keterasingan.
-B-
Benteng berdiri di perbatasan
Antara penuntut hak dan para Tiran
Pukulan rotan serta bidikan senapan iringi teriak mohon kesejahteraan
semua ditelantarkan!
Sementara iblis bertuhan keris berpidato.., amboi..., sungguh manis
-C-
Cetak lebih banyak tuhan kertas dan tuhan logam
Bukan untuk kami,
melainkan untuk kalian tikus tikus yang bertengger di meja tahta kekuasaan
Keruk saja!
Keruk! Sampai bagian tersusruk!
Tapi ingat saja: aku mulai garang!
Aku sedang ingin berpedang
Menebas segala bentuk penindasan;
memenggal segala pendukung keterasingan.
-D-
Dari atas hingga bawah
Dari kiri hingga kanan
berjejer deretan huruf, huruf yang membentuk kata, kata yang membentuk kalimat, kalimat yang membentuk paragraf.
Angka dan pasal pasal
Konstitusi untuk dipatuhi
Konstitusi untuk ditaati
Namun tidak bagi para petinggi,
'jahatku tersembunyi' katanya. Dan aku benci!!
..... ..... ..... ..... .....
..... ..... ..... ..... .....
..... ..... ..... ..... .....
-A-
Aku sedang ingin berpedang
Menebas segala bentuk penindasan;
memenggal segala pendukung keterasingan.
Di mana sejarah tertuang?
Di buku pelajaran sekolah?
Di buku cerita dengan 1001 kisah?
Apa yang dijelaskan tentang arti dari perjuangan, perang, pemberontakan permintaan hak jika ternyata berakhir di tangan para khalifah berwajah lintah?
Aku muak!
Geram!
Aku sedang ingin berpedang
Menebas segala bentuk penindasan;
memenggal segala pendukung keterasingan.
-B-
Benteng berdiri di perbatasan
Antara penuntut hak dan para Tiran
Pukulan rotan serta bidikan senapan iringi teriak mohon kesejahteraan
semua ditelantarkan!
Sementara iblis bertuhan keris berpidato.., amboi..., sungguh manis
-C-
Cetak lebih banyak tuhan kertas dan tuhan logam
Bukan untuk kami,
melainkan untuk kalian tikus tikus yang bertengger di meja tahta kekuasaan
Keruk saja!
Keruk! Sampai bagian tersusruk!
Tapi ingat saja: aku mulai garang!
Aku sedang ingin berpedang
Menebas segala bentuk penindasan;
memenggal segala pendukung keterasingan.
-D-
Dari atas hingga bawah
Dari kiri hingga kanan
berjejer deretan huruf, huruf yang membentuk kata, kata yang membentuk kalimat, kalimat yang membentuk paragraf.
Angka dan pasal pasal
Konstitusi untuk dipatuhi
Konstitusi untuk ditaati
Namun tidak bagi para petinggi,
'jahatku tersembunyi' katanya. Dan aku benci!!
..... ..... ..... ..... .....
..... ..... ..... ..... .....
..... ..... ..... ..... .....
Peralihan
Oleh Rika Rahmawati
Sekarang beralih
Dari hidup menjadi setengah mati;
setengah tak berhati.
Dulu bukan bersama ari ari
Dari peti aji aji
Biar besok
dengan ketibatiba sosok
Meski jauh pelosok
Merogok
Meski bagai rongsok
Sekarang beralih
Dari hidup menjadi setengah mati;
setengah tak berhati.
Dulu bukan bersama ari ari
Dari peti aji aji
Biar besok
dengan ketibatiba sosok
Meski jauh pelosok
Merogok
Meski bagai rongsok
Yang Ada Sebelum Namanya
Oleh Rika Rahmawati - Toge
Jika esok kita masih bisa berkata
Berkatalah hingga kisah-kisang yang dikubur ditelanjang
Jika esok kita masih bisa berkata
Berkatalah hingga cerita-cerita yang ditimbun dijajar
Jika esok kita masih bisa berkata
Berkatalah hingga sejuta peristiwa yang mengalir di arus berita benar-benar dicungkil diampar
Satu tanah satu ibu
Tapi tidak berarti satu perintah satu kebebasan dijarah
Satu tanah satu ibu
Tapi tidak berarti satu aturan satu harap dijagal dan melayang hilang
Karena setiap jemari bebas berimprovisasi tari
Dan karena setiap suara bebas melantun nyanyi
Dan karena pula hidup bukan sebatas layar 21 inchi
dengan kesamaan persepsi yang hanya barisan fiksi.
Yang ironi.
Diantara kemarin, esok, dan hari ini.
Hujan pun tidak menuntut basah
Pada kemarau yang mengering
Parpol-parpol yang mengurus 'entah'
Berebut kursi saling menggunjing
Aku menyerah dalam keadaan pasrah
Di mana yang ada sebelum namanya
Aku menyerah dalam keadaan pasrah
Di mana derita dalam duka tertimbun menjadi satu dalam tumpukan sejarah
Aku menyerah dalam keadaan pasrah
Di mana keadilan harus tegak berdiri di alam semesta, menerangi penjuru langit dan bumi
Hingga tak ada kata:
"kosong bertemu kosong
menjadi senyap dalam gelap
lalu sunyi dan mati"
Maka, nikmat apakah yang masih dapat kudustakan?
Jika esok kita masih bisa berkata
Berkatalah hingga kisah-kisang yang dikubur ditelanjang
Jika esok kita masih bisa berkata
Berkatalah hingga cerita-cerita yang ditimbun dijajar
Jika esok kita masih bisa berkata
Berkatalah hingga sejuta peristiwa yang mengalir di arus berita benar-benar dicungkil diampar
Satu tanah satu ibu
Tapi tidak berarti satu perintah satu kebebasan dijarah
Satu tanah satu ibu
Tapi tidak berarti satu aturan satu harap dijagal dan melayang hilang
Karena setiap jemari bebas berimprovisasi tari
Dan karena setiap suara bebas melantun nyanyi
Dan karena pula hidup bukan sebatas layar 21 inchi
dengan kesamaan persepsi yang hanya barisan fiksi.
Yang ironi.
Diantara kemarin, esok, dan hari ini.
Hujan pun tidak menuntut basah
Pada kemarau yang mengering
Parpol-parpol yang mengurus 'entah'
Berebut kursi saling menggunjing
Aku menyerah dalam keadaan pasrah
Di mana yang ada sebelum namanya
Aku menyerah dalam keadaan pasrah
Di mana derita dalam duka tertimbun menjadi satu dalam tumpukan sejarah
Aku menyerah dalam keadaan pasrah
Di mana keadilan harus tegak berdiri di alam semesta, menerangi penjuru langit dan bumi
Hingga tak ada kata:
"kosong bertemu kosong
menjadi senyap dalam gelap
lalu sunyi dan mati"
Maka, nikmat apakah yang masih dapat kudustakan?
Bawah Garis
Oleh Rika RahmawatiJalan,
aku.
Samar nyawa tinggal usia.
Disambung suara rhyma
tanpa
merdu irama.
Bersama tiga lampu. Serta.
Bukan tiang bendera melainkan
rambu-rambu.
Bawah terik,
aku.
Deru lagu.
Nyanyian untuk para tuan.
Deru lagu pinta recehan
dari para tuan kerah putih. Berdasi.
Hasil tahta dan korupsi. Yang.
Membunuh tanpa bercak darah.
Tumpukan koran catatan sejarah.
Kumal,
aku.
Ajak para tuan hendak singgah ke rumah.
Lantai, dinding, langit-langit:
kumpulan sampah.
Bila 'tak sudi: pergi!!
Para tuan tidak berarti.
Para tuan hanya menginjak.
Jalan, bawah terik, kumal:
masih bisa berjalan tanpa tapak.
Mata Angin

Oleh RikaRahmawati
Kita telah terdampar di suatu tempat yang aku panggil 'entah'
Kehidupan kota terkadang
lebih berharga dari pada belantara rimba
Kau membuka bajumu
akan mengeringkan keringat yang semenjak tadi pagi
kau kucurkan hingga petang ini.
Tulang-tulangmu menonjol
dan menggambarkan energimu telah habis sama dengan energiku,
kedinamisanmu sama terkikisnya dengan kedinamisanku.
Aku terduduk di semak belukar
memandang beberapa kawan yang sama lelahnya
mengucurkan keringat keputusasaa;
mengharapkan keajaiban yang tak mungkin datang
karena sebelumnya kita tak mengenal Tuhan.
Pikirku,
kapan terjadi awal?
Mungkin dulu ketika kalian belum mengenalku.
Dan,
kapan terjadi akhir?
Mungkin nanti tat kala kalian telah melupakanku.
Kuharap akhir kita tidak terjadi sekarang:
di saat ketakutan mendampingi perjalanan;
ketika ajal seakan di depan;
ketika kita tertekan memikirkan jalan pulang.
Ku dengar harmoni
dari seorang kawan yang sedang mencoba tenang.
Bagiku terlalu keparat jika harus sekarang , itu bagai
senyum pejabat
di atas derita rakyat melarat.
Kayu telah menjadi arang.
Tenda terang karena suara tangis gadis meringis.
Dia ingin pulang, sesekali melirik phonecell-nya
namun percuma
dan ia berteriak histeris.
Kita telah terdampar di suatu tempat yang aku panggil 'entah'
Gedung tua dengan lumut hijau di dinding,
ataupun rumah kumuh dengan lubang di kayu
lebih berharga dibanding dengan ini.
Beralaskan tanah;
berselimtu langit gelap, dengan
mimpi taburan bintang serta lampu bulan temaram.
Air hujan langsung mengenai ubun-ubun
tanpa genteng menjadi benteng.
Beberapa titik hujan jatuh di buku catatan kecilku
merah!!!
Kupandang arah atas
bintang sedang dibantai syaitan malam dan
tewas mengenaskan!!
Aku terpejam dengan titik-titik hujan darah.
Kita telah terdampar di suatu tempat yang aku panggil 'entah'
Kokokan ayam jantan
terlalu langka untuk didengarka.
Pagiku dibangunkan oleh gigitan serangga,
ufuk timur tak kulihat dari jendela
melainkan dari celah rambatan akar-akar benalu.
Kumelihatmu duduk di atas batu
dan 2 rakaat kewajiban telah tertinggalkan
aku benar-benar tidak mengenal Tuhan.
Si pelantun harmoni merenggut tanganku,
menariku menuju arahmu.
Kau suguhkan sarapan ; sarang lebah selai madu
dengan setitik embun untuk minum.
Gadis itu masih menangis, melirik phonecell namun
sutah tidak berteriak histeris
suaranya habis
setelah ketajaman malam menebas pita suaranya.
Tenang,
kau tetap tenang walau kami menderita
ataupun akan bagaiman pula.
Tak jauh beda dengan si pelantun harmoni:
tidak tau mati; tetap tersenyum
menghisap sebatang nikotin yang kau bawa jauh-jauh hari.
Aku berkabung,
awan jingga menjadi mendung.
Kepalaku menengadah, namun sang awan berkata,
"kau tak pantas menatapku, tak dapat kutunjukan
arah bagimu maupun kawananmu!
Tak kuhindari dahi mengkerut
seraya menunduk. Kusingkirkan dedaunan serta ranting di atas tanah
"jangan kau tanya, aku tak tahu apa-apa!
silakan saja tanya api dihadapanmu."
tukas tanah basah.
Api begitu merah
membara!!!
Tak kuasa aku bertanya seakan melihat singa.
Raungannya menutup mulutku, bahkan
menghentikan denyut nadi
dan harpanku terbang jauh terbawa angin.
Kita benar-benar
telah terdampar di suatu tempat yang aku panggil 'entah'.
Langganan:
Postingan (Atom)