Senin, 07 Juni 2010

Mata Angin


Oleh RikaRahmawati

Kita telah terdampar di suatu tempat yang aku panggil 'entah'
Kehidupan kota terkadang
lebih berharga dari pada belantara rimba
Kau membuka bajumu
akan mengeringkan keringat yang semenjak tadi pagi
kau kucurkan hingga petang ini.
Tulang-tulangmu menonjol
dan menggambarkan energimu telah habis sama dengan energiku,
kedinamisanmu sama terkikisnya dengan kedinamisanku.
Aku terduduk di semak belukar
memandang beberapa kawan yang sama lelahnya
mengucurkan keringat keputusasaa;
mengharapkan keajaiban yang tak mungkin datang
karena sebelumnya kita tak mengenal Tuhan.

Pikirku,
kapan terjadi awal?
Mungkin dulu ketika kalian belum mengenalku.
Dan,
kapan terjadi akhir?
Mungkin nanti tat kala kalian telah melupakanku.

Kuharap akhir kita tidak terjadi sekarang:
di saat ketakutan mendampingi perjalanan;
ketika ajal seakan di depan;
ketika kita tertekan memikirkan jalan pulang.

Ku dengar harmoni
dari seorang kawan yang sedang mencoba tenang.
Bagiku terlalu keparat jika harus sekarang , itu bagai
senyum pejabat
di atas derita rakyat melarat.

Kayu telah menjadi arang.
Tenda terang karena suara tangis gadis meringis.
Dia ingin pulang, sesekali melirik phonecell-nya
namun percuma
dan ia berteriak histeris.

Kita telah terdampar di suatu tempat yang aku panggil 'entah'
Gedung tua dengan lumut hijau di dinding,
ataupun rumah kumuh dengan lubang di kayu
lebih berharga dibanding dengan ini.
Beralaskan tanah;
berselimtu langit gelap, dengan
mimpi taburan bintang serta lampu bulan temaram.

Air hujan langsung mengenai ubun-ubun
tanpa genteng menjadi benteng.
Beberapa titik hujan jatuh di buku catatan kecilku
merah!!!
Kupandang arah atas
bintang sedang dibantai syaitan malam dan
tewas mengenaskan!!

Aku terpejam dengan titik-titik hujan darah.

Kita telah terdampar di suatu tempat yang aku panggil 'entah'
Kokokan ayam jantan
terlalu langka untuk didengarka.
Pagiku dibangunkan oleh gigitan serangga,
ufuk timur tak kulihat dari jendela
melainkan dari celah rambatan akar-akar benalu.

Kumelihatmu duduk di atas batu
dan 2 rakaat kewajiban telah tertinggalkan
aku benar-benar tidak mengenal Tuhan.

Si pelantun harmoni merenggut tanganku,
menariku menuju arahmu.
Kau suguhkan sarapan ; sarang lebah selai madu
dengan setitik embun untuk minum.
Gadis itu masih menangis, melirik phonecell namun
sutah tidak berteriak histeris
suaranya habis
setelah ketajaman malam menebas pita suaranya.

Tenang,
kau tetap tenang walau kami menderita
ataupun akan bagaiman pula.
Tak jauh beda dengan si pelantun harmoni:
tidak tau mati; tetap tersenyum
menghisap sebatang nikotin yang kau bawa jauh-jauh hari.

Aku berkabung,
awan jingga menjadi mendung.
Kepalaku menengadah, namun sang awan berkata,
"kau tak pantas menatapku, tak dapat kutunjukan
arah bagimu maupun kawananmu!
Tak kuhindari dahi mengkerut
seraya menunduk. Kusingkirkan dedaunan serta ranting di atas tanah
"jangan kau tanya, aku tak tahu apa-apa!
silakan saja tanya api dihadapanmu."
tukas tanah basah.

Api begitu merah
membara!!!
Tak kuasa aku bertanya seakan melihat singa.
Raungannya menutup mulutku, bahkan
menghentikan denyut nadi
dan harpanku terbang jauh terbawa angin.
Kita benar-benar
telah terdampar di suatu tempat yang aku panggil 'entah'.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar