Senin, 07 Juni 2010

Salam Segala Salam


Oleh Rika Rahmawati

Aku hanya ingin bicara tentang harapku pada bumi di esok hari
Ingin cerah tapi tanpa mentari bergairah
Bolehlah mendung asal daun daun tak berkabung

Salam segala salam dari fajar kepada awan
Sampaikan pada negara dengan teriak ibu di kolong jembatan yang menggendong buah hati tanpa harap dan mimpi karena dirampas para tirani

Salam segala salam dari fajar kepada awan
Sampaikan pada negara dengan penghuni trotoar yang sudah bagai koral di sebuah altar tempat para khalifah menengadah merahrah

Salam segala salam dari fajar kepada awan
Sampaikan pada negara dengan mimbar bantaran sungai tempat para imam hendak berenang kala turun hujam

Aku hanya ingin bicara tentang harapku pada bumi di malam nanti
Ingin terang tapi tanpa lampu dan bulan
Bolehlah berbintang asal langit tetap bertelanjang

Salam segala salam dari angin kepada dingin
Sampaikan pada dunia dengan perang yang sudah diangagap biasa. Dipersenjatai soda soda cocacola.

Salam segala salam dari angin kepada dingin
Sampaikan pada dunia dengan pemuda yang sudah harus membidik kepala sesama manusia seperti pada macan pemangsa

Salam segala salam dari angin kepada dingin
Sampaikan pada dunia dengan pendeta yang hendak berkelililng untuk beribadah harus dikawal oleh 4 tentara

Salam segala salam..
Salam segala salam..

Aku hanya sedikit bicara dengan pena yang tak siap di isi tinta

Atas nama kibaran bendera di tengah ladang para jalang
Bahwa hirarki bumi tidak lebih dari opsi investasi

Atas nama kibaran bendera di tengah ladang petani petang
Bahwa hiraiki bumi tidak lebih dari opsi eksploitasi

Dan darah proletariat adalah luapan profit yang mereka kais, mereka hisap, meraka keruk
bagai dengan tebasan celurit banditbandit

Langit terlalu jauh merakit
Oh..,
sungguh..
Langit terlalu jauh merakit

Dasar bait bait yang aku pulung dan aku sair dari parit

Salam segala salam..
Salam segala salam..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar