Rabu, 09 Juni 2010

Suara Pagi

Oleh Rika Rahmawati

Pagi selalu aku awali dengan berdiri di balik jendela kamar untuk ku nikmati kebusukkan mentari pagi menembus pori
Mengingat Tuhan yang kemarin habis ditelan
dan hari ini manusia bertebaran kembali untuk mencari di balik pintu gerbang korporasi
yang mulai tak berarti karena terlalu didesaki tragedi;
dan juga para petani pagi yang mulai lupa menebarkan pupuk karena bentuk modernisasi dan lahan yang bertransformasi menjadi betonbeton tinggi.
Namun dari hari ini kepalan ku dan kami mulai meninggi
Hingga balita bisa kembali kenali fajar dipojokkan hari
Hingga secercah harap bukan hanya sekedar kudapan di meja makan para tirani
Hingga akhirnya kami akan terus bersuara sambil berseri
sekalipun harus mati dan mengasap selayaknya Munir dan Widji Tukul
Tat kala suara dan kata dibungkam rentetan tembakkan senjata
yang menjadikan perang dianggap biasa dimata penguasa.
"PERANG TIDAK PERNAH MENENTUKAN SIAPA YANG BENAR
MELAINKAN MENENTUKAN SIAPA YANG TERSISA."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar